Kisah Tenun yang Nyaris ‘Putus Benang’

Lesthia Kertopati & Agniya Khoiri, CNN Indonesia

Sabtu, 19/03/2016 17:02 WIB

Browser anda tidak mendukung iFrame

Yovita Meta mempraktekkan penggunaan miniatur alat tenun yang digunakan penenun cilik. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)

Jakarta, CNN Indonesia – Tidak hanya Batik, Indonesia memiliki kain tradisional lain yaitu tenun. Sayangnya, hingga saat ini masyarakat Indonesia belum sepenuhnya peduli akan kebudayaan yang dimiliki, termasuk kain tenun.

“Budaya tidak lagi menjadi satu hal yang menarik, tidak dianggap penting. Masyarakat anggap tenun, ya tenun,” ujar Kepala Bentara Budaya Jakarta, Paulina, di pameran “Cerita Tenun Tangan” di Jakarta, baru-baru ini.

Padahal, budayalah yang membentuk kain tenun. Tidak hanya itu, kain tenun itu juga yang mengikat tradisi. Sebut saja Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, serta Tanggenan, yang masyarakatnya masih punya tradisi tenun yang kuat.

Sayangnya, para penenun ini biasanya perempuan dan sudah berusia lanjut. Di sisi lain, penghasilan yang mereka dapatkan pun masih jauh dari cukup.

Di mata konsumen, harga kain tenun masih dianggap mahal dan kerap ditawar rendah. Padahal, harga tersebut tidak setimpal dengan proses panjang dan makna mendalam dari tenun itu sendiri.

Bagi suku yang masih memegang teguh tradisi menenun, kain bermotif eksotis tersebut adalah bagian hidup mereka. Dalam tenun, motif bukanlah sebuah simbol belaka, ada cerita dan sejarah tentang suku, serta asal muasal kehidupan mereka.

Jika tidak dilestarikan, bukan tidak mungkin tradisi menenun di Indonesia punah. Indonesia seharusnya bisa berkaca pada Australia yang telah kehilangan tradisi menenun karena tidak punya generasi penerus.

‘Putus Benang’

Tenun Yogyakarta misalnya. Selain lurik, ada juga kain tenun sederhana yang disebut stagen. Umumnya harganya pun murah karena berupa kain panjang yang terdiri dari satu warna polos. Biasanya digunakan sebagai penahan jarit atau kain batik.

Stagen, dulu mudah ditemukan di setiap sudut Yogya. Kini, nyaris menjadi barang langka. Itu terjadi akibat jumlah pengrajin yang terus berkurang.

Pelestari tenun dari Perhimpunan Lawe, Adinindyah menyebut prospek ekonomi tenun yang suram berimbas pada langkanya pengrajin. Di Yogya, banyak penenun, baik pria ataupun wanita, yang beralih profesi menjadi penambang pasir atau pekerja pabrik. Jika hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin tenun pudar ditelan zaman alias ‘putus benang’.

Oleh karena itu Adinindyah bersama Perhimpunan Lawe pun juga berkonsentrasi untuk mengembalikan para penambang ke pekerjaan sebagai penenun, dengan penghasilan yang menjanjikan.

Padahal, bila diolah, stagen bisa jadi sumber pendapatan baru bagi para pengrajin tenun di Kota Gudeg. Hal itu bisa diwujudkan dengan memberi added value, seperti warna dan motif tambahan, sehingga bernilai lebih bagi masyarakat.

“Dengan tambah sedikit usaha tapi impact-nya lebih besar. Kita ajarkan beri warna tambahan, ini bisa menggerakkan perekonomian lagi, dan rencana akan membuka desa wisata tenun di Moiyudan, Yogyakarta,” kata Adinindyah.

Satu gulung stagen polos berukuran 5 meter, dihargai sekitar Rp12-18 ribu. Sedangkan, stagen berwarna satu meternya bisa mencapai Rp25 ribu.

Di sisi lain, pengembangan desain pun bisa jadi daya tarik tersendiri. Harapannya, stagen tak melulu harus jadi penahan jarit. Tenun stagen Desa Sumberarum, Yogyakarta yang sederhana, menjadi lebih berwarna dan tampil variatif dalam bentuk sepatu, tas bahkan pakaian yang unik dan etnik.

“Kami bantu mengembangkannya dengan pengolahan menjadi produk yang lebih variatif dan coba dipasarkan, hasil penjualannya kita kasih berupa bantuan bahan baku ke penenun,” tuturnya.

Selain itu, diharapkan pergeseran desa tenun di Moyudan, Yogyakarta sebagai desa wisata, pada akhir April mendatang, bisa jadi solusi penambahan pendapatan.

Tak berbeda dengan Yogyakarta, tradisi tenun yang nyaris ‘putus benang’ pun terjadi di Desa Biboki, Kefamenanu, NTT. Seperti juga desa lainnya, penenun di Biboki sudah sepuh. Jika tak ada regenerasi, tradisi tenun akan punah.

Diharapkan pameran tersebut bisa jadi salah satu cara melestarikan tenun dan menyejahterakan pengrajin tenun. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)

Prihatin dengan masa depan tenun yang nyaris putus itulah Yovita Meta Bastian, pendiri Yayasan Tafean Fah, berusaha melestarikan tenun lewat edukasi cara menenun pada anak-anak. Yovita berkolaborasi dengan organisasi pelestari tenun lainnya seperti Lawe, Lurik Kurnia, dan Terasmitra.

Kerja sama Yovita dengan penenun cilik, ia mulai dengan mereplikasi hasil tenun buatan mereka menjadi lebih besar. Hasil penjualan dari replikasi karya penenun cilik itu, nantinya untuk beasiswa sekolah anak-anak tersebut.

“Dengan buat ribuan produk dari replikasi, ini mendorong mereka menekuni tenun ini. Supaya tidak memikirkan biaya sekolah, karena kami mengharapkan regenerasi tidak putus, anak-anak yang menenun kebanyakan tidak sekolah, jadi kami ingin mereka tetap sekolah tetapi tradisi tidak hilang,” ujar Yovita, satu dari 10 penerima penghargaan Prince Claus Award dari Belanda berkat perhatiannya pada tenun.

Dengan membekali miniatur alat tenun, Yovita mengharapkan banyak anak-anak sekolah yang bisa latihan menenun. Saat ini, ia fokus pengajaran pada siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Terhitung, sudah ada 16 SMP, 25 SD di Desa Biboki yang mendapatkan pengajaran ini, serta 30 SD di desa lain.

“Anak perempuan yang lebih suka menenun, anak laki-laki risih, mereka lebih suka gulung benang dan tidak mau tenun,” ungkap Yovita.

Terganjal Bahan Baku

Selain penurunan jumlah pengrajin, masalah lain yang harus dihadapi untuk melestarikan tenun adalah soal bahan baku. Yovita mengamini hal tersebut.

“Masalah utama penenun adalah tidak bisa membeli bahan baku,” ujarnya.

Dia menambahkan berkurangnya ladang kapas juga menjadi masalah. “Tidak ada lagi ladang kapas. Tradisi membuat benang dari kapas juga hampir menghilang.”

Oleh karena itu, Yovita tengah berupaya mengembalikan mata rantai industri tenun, dari penanaman kapas hingga menjadi kain tenun berwarna-warni.

“Sedang mengembangkan kembali kegiatan tersebut, saat hujan pertama di awal musim turun, yang perlu ditanam itu kapas. Kemudian harus bisa menanam tanaman yang menghasilkan pewarna alam. Orang tua tidak masalah, yang masalah muda-muda, tidak suka kerja lama. Kami Mencoba untuk terus menanam, dan dapat bantuan untuk perbaiki lingkungan, meski kendala daerah kami,musim panasnya lebih panjang,” terang Yovita.

Bagi para pengrajin, tenun memang bukan sekadar kain, tapi cara bertahan hidup. Atas dasar itulah Global Environtment Facility-Small Grand Programme (GEF-SGP) mendukung kampanye “Weaving for Life” yang dirintis perhimpunan Lawe.

Kampanye tersebut diwujudkan melalui sebuah pameran bertajuk ‘Cerita Tenun Tangan’ yang menampilkan kisah perjalanan beberapa wilayah Indonesia yang mempunyai tradisi kuat menenun. Pameran ini diwakili langsung oleh penenun asal Krapyak dan Moyudan, Yogyakarta, dan juga Timur Tengah Utara, NTT.

“Tujuannya, pertama untuk meningkatkan kapasitas penenun, kedua, mempromosikan produk tenun hasil potensi lokal. Mengembangkan jaringan, berbagi cerita, kami menyadari banyak penenun yang tidak mampu, bahkan tradisi ini hampir hilang,” ungkap Perwakilan GEF-SGF Chatarina Dwi Hastarini.

Pameran ini berlangsung di Bentara Budaya Jakarta dari 15-20 Maret 2016. Selama pameran, pengunjung pun diberi kesempatan untuk belajar menenun langsung dengan pengrajin.

http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160319170025-277-118468/kisah-tenun-yang-nyaris-putus-benang/