Artikel

Memasyarakatkan Biogas Sebagai Energi Alternetif

Selasa, 27 April 2010, 20:32:00

Kulonprogo (KRjogja.com) – Biogas memiliki potensi kelebihan dalam aspek pemberdayaan masyarakat, ekonomi dan lingkungan idup. Lewat biogas pula masyarakat bisa Mandiri dan berwawasan masa depan untuk kemajuan bangsa. Karena itu biogas hendaknya dikembangkan sehingga menjadi energy alternative.

“Pengembangan energy berbasis pemberdayaan menuju ketahanan energy dan pangan pada rumah tangga petani memang sedang kami populerkan dan disosialisasikan sehingga menjadi sumber energy alternative yang ramah lingkungan,” kata Direktur Eksekutif Yaperindo Bambang Suwignyo PhD di Kulonprogo, Selasa (27/4).

Dijelaskan, karena biogas sebagai sumber energy alternative tandas alumnus University of the Philippines Los Banos (UPBL) Bidang Peternakan dan Pemberdayaan Lingkungan Hidup ini maka program biogas dan pemberdayaan masyarakat yang Mandiri berwaasan masa depan demi kemajuan bangsa perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Untuk keberlanjutan program tersebut tentunya ada hal lain yang mesti diperhatikan. Sebab keberadaan suatu program selalu didukung oleh aspek sumber dana dan sumber daya. “Untuk sumber dana saya rasa sekarang boleh dikatakan banyak institusi maupun kelompok-kelompok masyarakat yang tertarik mengembangkan biogas. Sehingga sektor swasta maupun instansi pemerintah berani mengalokasikan anggaran untuk program biogas,” tandasnya.

Pemkab Kulonprogo sendiri telah mengalokasikan dana miliaran rupiah untuk pembiayaan pembangunan unit-unit biogas. Begitu pula halnya dengan Yaperindo sudah sejak tahun 2005 telah mengembangkan biogas dalam berbagai aspek pemberdayaan.

“Artinya dibidang pendanaan untuk saat ini bisa dikatakan bukan persoalan pokok lagi. Karena banyak kelompok masyarakat yang siap membantu mengembangkan program ini. Seperti yang dilakukan kelompok binaan Yaperindo, Makmur Lestari di Desa Glagah, kelompok ini telah membuat program arisa biogas sebagai bentuk upaya keberlanjutan program,” terang Bambang. (Rul)

(http://www.krjogja.com/news/detail/30434/Memasyarakatkan.Biogas.Sebagai.Energi.Alternatif.html)

Meluruskan Persepsi Tentang Biogas

PERSEPSI sebagian masyarakat bahwa biogas sama dengan kompor sesungguhnya telah menyempitkan makna biogas, sehingga biogas hanya dinilai sebagai sesuatu yang biasa. Padahal selain biogas identik dengan kompor juga memiliki nilai-nilai istimewa. Persepsi masyarakat terhadap biaya penyediaan kompor kayu, kompor minyak dan kompor LPG jauh lebih murah dibandingkan dengan pembuatan digester biogas harus diluruskan.

Selanjutnya

BISA DIGUNAKAN UNTUK MESIN DIESEL – Biogas ‘3in1’ Diluncurkan

Temon (KR) – Guna mengembangkan biogas sebagai sumber energy alternative, Yaperindo menjadikan Kelompok Tani (Kelomtan) Makmur Lestari di Pedukuhan Kretek Desa Glagah Kecamatan Temon sebagai pilot project program biogas dan desa Mandiri Energi. Pembangunan pilot project tersebut dilakukan oleh para kader biogas dengan sumber dana berasal dari program GEF/SGP di bawah pendampingan atau pembinaan Yaperindo.

“Kami memang sedang mengoptimalkan kader biogas dalam mengkampanyekan biogas sebagai salah satu bentuk cinta bumi,” kata Direktur Eksekutif Yaperindo Dr. Bambang Suwignyo MP kepada KR di sela-sela pembanguan pilot project Biogas ‘3in1’  di Sekretariat Kelomtan Makmur Lestari, belum lama ini.

Selanjutnya

Bukan Sekadar Target

Kamis, 1 April 2010 | 04:20 WIB

Persoalan birokrasi dan karut-marut koordinasi antarlembaga negara memperlihatkan, target bauran energi sampai 5 persen dari penggunaan energi konvensional (bahan bakar fosil, termasuk batu bara) pada tahun 2025 hanyalah komitmen di atas kertas.

Sebenarnya, sejak tahun 2006, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, pemerintah menargetkan kemandirian energi pada 2025. Namun, konsumsi energi Indonesia sampai sekarang masih didominasi bahan bakar fosil. Penggunaan minyak bumi sebagai energi primer masih sekitar 51,66 persen, gas bumi 28,57 persen, dan batu bara 15,34 persen. Dengan demikian, sulit pula membayangkan Indonesia bisa mencapai komitmen penurunan emisi gas rumah kaca, khususnya karbon dioksida (CO) sebesar 26 persen pada tahun 2020, yang ditegaskan dalam Konferensi Para Pihak (COP)-15 mengenai Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC) di Kopenhagen, Denmark, pada akhir tahun 2009.

Selanjutnya

Banyak Persoalan Tertinggal

Kompas, Kamis, 1 April 2010 | 04:20 WIB

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro atau PLTMH Wotlemah memiliki
daya 20 kWh, mulai beroperasi tahun lalu, untuk memenuhi kebutuhan
warga, khususnya di Dusun Balekambang dan Biting. Dengan demikian,
Paguyuban Kalimaron memiliki dua PLTMH berdaya 45 kWh. Penghasilan
dari penjualan listrik ke PLN bertambah menjadi sekitar Rp 7 juta per bulan.

”Sebenarnya bisa lebih dari itu,” ujar Suroso yang juga Ketua Paguyuban
Kalimaron, ”Kalau PLN mau membeli listrik kami sesuai Peraturan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral yang baru.”
Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 Tahun 2009 tentang Harga Pembelian
Tenaga Listrik oleh PLN dari Pembangkit yang Menggunakan Tenaga Listrik Terbarukan dari Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Swasta, maupun Swadaya Masyarakat itu ditandatangani tanggal 13 November 2009.

Selanjutnya

Wotlemah

Kompas, Kamis, 1 April 2010 | 04:22 WIB

Karena tidak mencukupi untuk pengembangan industri rumah, pada tahun 1999 warga Seloliman berencana menaikkan daya pembangkit listrik tenaga mikrohidro menjadi 25 kWh. Pada tahun itu juga mulai dirasakan pendekatan. Sebelumnya, masyarakat hanya pengguna dan PPLH yang mengelola, termasuk menanggung seluruh kerusakan. Hal itu dianggap tidak mendidik rakyat untuk mandiri.

Program Bantuan Hibah Kecil Dana Lingkungan Global (GEF-SGP), kemudian digunakan untuk menambah daya, sekaligus mengubah bentuk pengelolaan menjadi paguyuban, Paguyuban Kalimaron (PKM) dan mulai menjual sisa listrik ke PLN.

Selanjutnya

PLTMH Kalimaron, Upaya Memerdekakan Warga

LISTRIK RAKYAT

Kompas, Kamis, 1 April 2010 | 04:23 WIB
Oleh MARIA HARTININGSIH

Sungai-sungai kecil di pedesaan adalah sumber hidup. Selain untuk irigasi persawahan, kalau sungai itu meliuk turun pada kontur tanah yang curam,ia
berpotensi menjadi sumber energi. Airnya ditampung di bendungan kecil, lalu disalurkan melalui pipa besar ke bawah, sehingga menghasilkan
kekuatan seperti air terjun yang kemudian menggerakkan turbin listrik.

Selanjutnya