Artikel

News Letter Bulan Juni 2014

Di news letter edisi bulan Juni 2014 ini, banyak kegiatan mitra yang menarik dan ada 2 cerita yang dituliskan oleh teman-teman dari Greeneration Indonesia dan Ciliwung Merdeka. Kedua lembaga ini mempunyai persamaan adalah lembaga yang didorong oleh semangat anak-anak muda. Kegiatan mereka juga bertujuan untuk mengurangi sampah plastik dengan cara yang berbeda. Semoga berguna :) ). Selamat mendownload newsletter ini dengan menggunakan link dibawah ini.

News Letter GEF SGP Indonesia Edisi Juni 2014 (70)

News Letter GEF SGP Indonesia Edisi Mei 2014

Mulai Bulan Mei 2014 ini, GEF SGP Indonesia akan mengeluarkan newsletter setiap bulannya. Newsletter ini akan berisi berita-berita dan update kegiatan terbaru dari mitra-mitra SGP Indonesia, dan mereka akan menuliskannya sendiri. Selain itu, ada pula update kegiatan terbaru dari Sekretariat GEF SGP Indonesia. Semoga berguna :) ). Selamat mendownload newsletter ini dengan menggunakan link dibawah ini.

Mei2014_Publication GEF SGP Indonesia Newsletter

INILAH TEPUNG BERGIZI, EKONOMIS, DAN PRAKTIS

Sebagian besar masyarakat Indonesia menggunakan tepung sebagai bahan dasar makanan dalam kehidupan sehari- harinya, akan tetapi dengan kemajuan teknologi di era modernisasi ini sangat sulit mencari bahan pokok makanan yang bergizi, ekonomis serta praktis termasuk tepung di dalamnya. Permasalahan tersebut dimata seorang usahawan bernama Sony Mohson bisa menjadi peluang usaha yang menggiurkan, beliau seorang usahawan asal Surabaya yang sengaja mengundurkan diri dari PNS dikarenakan miris melihat kondisi alam sekitarnya terutama ekosistem mangrove. Beliau coba memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai ladang usaha agar masyarakat di sekitar bisa terbuka pikirannya dengan manfaat ekosistem mangrove dan ikut serta dalam menjaga kelestariannya.Sudah tidak asing lagi bahwasanya  hutan mangrove adalah tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut terutama muara sungai, laguna dan  pantai yang terlindung. Fungsi ekologi dari ekosistem mangrove adalah sebagai pelindung pantai dari abrasi, erosi dan gelombang, pengendali instrusi air laut, habitat beragam fauna serta habitat berkembangbiaknya beragam flora dan fauna. Meskipun demikian, informasi akan manfaat mangrove ini belum banyak dipublikasikan. Pada abad ke -16 salah satu tumbuhan mangrove yakni Bruguiera sp (lindur) dapat dimanfaatkan sebagai nasi bakau.

Gambar 2. Beras dari bahan Tancang/Lindur

Pak Sony, usahawan yang cerdik dan berjiwa konservasi ini benar- benar mempelajari dan mendalami dengan adanya berita bahwa mangrove bisa digunakan sebagai bahan makanan. Alhasil beliau dapat mengolah mangrove tersebut menjadi makanan yang bergizi, ekonomis dan praktis tanpa menghilangkan ciri khas dari tumbuhan mangrove itu sendiri. Salah satu produk dari beliau adalah tepung mangrove. Tepung ini selain memiliki daya gizi yang tinggi, ekonomis ternyata cara pembuatannya pun praktis. Adapun jenis mangrove yang dapat dibuat tepung yaitu jenis api-api (Avicenia sp) dan lindur/tancang (Bruguiera sp).

Gambar 3. Pelatihan pembuatan tepung mangrove

Pada kesempatan ini, Pak Sony juga berkenan untuk membagi ilmunya pada ibu-ibu anggota kelompok pengolah makanan di Mangkang Wetan dan Mangunharjo. Kegiatan pelatihan ini merupakan salah satu bagian dari program Yayasan Kanopi Indonesia, Pemulihan Ekosistem Mangrove di Mangkang Wetan dan Mangunharjo yang didanai oleh GEF-SGP. Pada pelatihan ini dibahas mengenai cara pembuatan tepung mangrove dari bahan api-api (Avicenia sp) dan lindur/tancang (Bruguiera sp) serta mengolahnya menjadi beberapa macam olahan makanan.

Berikut adalah proses- proses pembuatan tepung mangrove :

Bahan  dasar tancang/lindur (Bruguiera sp)

  • Tancang dicuci bersih kemudian direbus sampai mendidih kurang lebih 30 menit (air dibiarkan mendidih terlebih dahulu baru lindur dimasukkan), air hasil rebusan dibuang dan diganti dengan air yang baru kemudian direbus lagi. Hal ini dilakukan kembali sampai tiga kali agar zat taninnya hilang.
  • Setelah direbus, tancang dikupas dan dipotong sesuai ukuran yang diinginkan.
  • Setelah dtiriskan, tancang kemudian ditumbuk sampai halus atau diblender dengan ditambahkan air secukupnya.
  • Hasil blenderan ini kemudian dikeringkan dengan menggunakan karung beras plastik sebagai alasnya sehingga kering. Karung beras plastik yang telah digunting melebar kemudian dituang bubur mangrove tersebut diatasnya hingga rata dan diusahakan bisa setipis mungkin menggunakan alat bantu sepatula.
  • Dijemur dibawah terik matahari hingga berwarna kecoklatan, dari serbuk- serbuk yang terkelupas tersebut dikumpulkan kemudian diremas, diblender dan diayak kembali sehingga hasil inilah yang dinamakan tepung mangrove (Bruguiera sp.)

Bahan dasar api- api (Avicinea sp.)

  • Api- api dicuci bersih kemudian dikupas dari kulit arinya, lalu direbus sampai mendidih kurang lebih 30 menit (air dibiarkan mendidih terlebih dahulu baru lindur dimasukkan), air hasil rebusan dibuang dan diganti dengan air yang baru kemudian direbus lagi. Hal ini dilakukan kembali sampai tiga kali agar zat taninnya hilang.
  • Setelah itu direndam di air kurang lebih 2 hari. Rendaman ini berfungsi untuk menghilangkan tannin yang ada di dalam buah sehingga buah menjadi tawar.
  • Setelah dtiriskan, tancang kemudian ditumbuk sampai halus atau diblender dengan ditambahkan air secukupnya.
  • Hasil blenderan ini kemudian dikeringkan dengan menggunakan karung beras plastik sebagai alasnya sehingga kering. Karung beras plastik yang telah digunting melebar kemudian dtuang bubur mangrove tersebut diatasnya hingga rata dan diusahakan bisa setipis mungkin menggunakan alat bantu sepatula.
  • Dijemur dibawah terik matahari hingga berwarna kecoklatan, dari serbuk- serbuk yang terkelupas tersebut dikumpulkan kemudian diremas, diblender dan diayak kembali sehingga hasil inilah yang dinamakan tepung mangrove (Avicenia sp.)

Gambar 4. Proses pembuatan tepung mangrove

Tepung yang dihasilkan baik dari api- api ataupun lindur bisa digunakan sebagai bahan pembuat brownies, roti, ataupun produk- produk makanan lainnya, Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Gambar 5. Hasil olahan tepung mangrove menjadi makanan (Klepon api-api, Brownies tancang, Cendol tancang)

Sumber : http://kanopi-indonesia.org/2014/02/07/inilah-tepung-bergizi-ekonomis-dan-praktis/

Praktik Cerdas di Sekolah Jumilah

Rini Kustiasih

Pendi (11), siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Batulayar, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, tampak serius. Ia berusaha mengaitkan dinamo bekas sepeda motor ke kincir buatannya dari gelas plastik air mineral, Rabu (23/5). Ia tak lagi menghiraukan temannya yang asyik bermain di sebelahnya.

Agar seperti kincir, gelas plastik air mineral itu terlebih dulu dipotong sisinya sehingga menjadi rumbai-rumbai. Lalu, bagian dasar gelas dilubangi bagian tengahnya. Dinamo bekas berukuran kecil itu kemudian berusaha dimasukkan dalam lubang yang dibikin di dasar gelas. Pendi lalu menghubungkan dinamo itu dengan baterai melalui kabel kecil yang juga bekas.

Seperti yang ia harapkan, dinamo itu bisa menggerakkan kincir angin buatannya. Kincir berputar cepat setiap kali kabel dinamo ia tempelkan ke baterai. Raut muka gembira terlihat di wajahnya. Beberapa kali ia berputar-putar seperti ingin memamerkan keberhasilan itu kepada teman-temannya.

Menariknya, aktivitas yang dilakukan Pendi itu tidak berada di dalam kelas tempat ia mengenyam pendidikan formal sehari-hari. Ia berada di alam bebas, di sebuah teras rumah milik Jumilah (28), warga Dusun Duduk Bawah, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat.

Di teras rumah yang disulap menjadi ”sekolah” itulah puluhan anak usia SD hingga SMP belajar bebas tentang apa pun, termasuk berdiskusi dan berkelompok. Apa yang dilakukan Pendi hanyalah contoh kecil kreativitas siswa yang berkembang luar biasa di sekolah alam.

Belajar dari anak

”Saya dahulu juga tidak bisa baca tulis. Di sini saya belajar membaca dan menulis dari anak sulung saya, Diana (17). Setiap hari sebelum berangkat bekerja menjadi pembantu rumah tangga, saya belajar membaca dari anak saya,” kata Jumilah, ibu tiga anak yang sejak tahun 2005 ”mendirikan” sekolah ala Jumilah di teras rumahnya.

Dorongan untuk belajar yang dimiliki Jumilah itu timbul lantaran ada program pendampingan dari Yayasan Tunas Anak Indonesia (Santai) ke desanya tahun 2003. Dari pendamping, dia mengetahui, sekolah tidak harus melulu dalam kelas. Belajar pun tak mengenal usia serta jenis kelamin. Siapa pun bisa belajar asalkan ada kemauan.

Lokasi Sekolah Jumilah pun berpindah-pindah, tetapi masih berada di lingkungan tempat tinggalnya. Siapa saja boleh berkumpul di sekolah alam itu, termasuk kaum ibu yang memanfaatkan ”kelas” Jumilah sebagai lahan ”belajar sambil mengajar”. Betapa tidak, banyak kaum ibu di desa itu yang buta huruf. Di Sekolah Jumilah, mereka berkumpul dengan anak-anaknya yang pulang sekolah, lalu belajar bersama. Tidak ada sekat antara murid dan guru. Anak dan ibu saling berbagi pengetahuan.

Sepulang sekolah, Pendi dan Iwan, kakak-beradik, menyempatkan berkumpul di Sekolah Jumilah. Di sana mereka membaca, menggambar, atau sekadar bermain. Biasanya anak kelas I-IV SD ada di sana pada siang hari. Siswa kelas VI SD datang pada hari Minggu. Teras rumah Jumilah menjelma sebagai ruang publik yang memungkinkan setiap anak belajar apa pun.

”Gurunya adalah bibi, kakak, dan ibu mereka sendiri. Kepada teman yang lain, mereka juga saling belajar,” ungkap Jumilah.

uku, alat tulis, dan alat gambar sepenuhnya berasal dari donatur. Tahun 2009, Jumilah ingin mengembangkan sekolahnya. Ia yang baru bisa membaca dan menulis nekat menyurati Gubernur NTB M Zainul Majdi. Tahun itu Gubernur datang dan menyumbang Rp 5 juta untuk pengembangan sekolah itu.

Buku dan peralatan tulis disimpan di lemari kayu sederhana di sudut kelas. Sebuah papan tulis reyot masih dipakai di Sekolah Jumilah. Tiga bangku memanjang tersedia di sana.

Namun, seperti tampak Rabu lalu, anak-anak rupanya lebih senang duduk di lantai semen atau berlari-lari berkeliling ”kelas” berukuran sekitar 12 meter persegi itu. Beberapa meter di depan kelas, berbatasan dengan jalan kampung, mengalirlah sungai dari bukit. Di samping dan belakang kelas adalah kebun. Dari sana bisa dirasakan semilir angin yang menyegarkan.

”Dunia anak, kan, dunia bermain. Jadi, biar mereka bermain sesukanya, belajar sesuka hati,” jelas Jumilah, yang hanya bersekolah sampai kelas II SD ini.

Nilai gotong royong

Jumilah juga mengajak anak-anak membentuk Kelompok Berambas, yakni kelompok gotong royong untuk membersihkan hutan. Jarak desa tempat tinggalnya dengan hutan sekitar 10 kilometer, yaitu di bukit tempat sumber air yang kini mereka nikmati, Nangkok Siye. Di kelompok itu, anak-anak membersihkan hutan dan menanaminya dengan aneka pohon, seperti mahoni dan sengon.

Jumilah agaknya menawarkan pendidikan alternatif di luar pendidikan formal yang kian mahal. Anak-anak bermain dan berkelompok tanpa membedakan status sosial dan tingkat kecerdasannya. Setiap anak memiliki kemampuannya masing-masing. Mereka diajak saling melengkapi kekurangan dan bekerja sama. Sifat individualistis serta ketamakan dikikis. Nilai gotong royong, seperti dipesankan Bapak Bangsa, ditanamkan.

Pemandangan ini tentu kontras dengan perkembangan dunia pendidikan kita yang kian menunjukkan sekat sosial, antara si pintar dan si bodoh, si kaya dan si miskin, seperti konsep rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Ketika pintu kemajuan hanya bisa dinikmati pemilik kapital, yang terjadi ialah kesenjangan yang makin dalam dan menenggelamkan.

Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI), yang pekan lalu mendampingi Kompas mengunjungi Sekolah Jumilah, memasukkan sekolah itu sebagai praktik cerdas. Praktik inovasi warga untuk menjawab tantangan yang dihadapi komunitasnya.

Media: “Kompas”

Tanggal: Senin, 28 Mei 2012

http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/28/09451584/Praktik.Cerdas.di.Sekolah.Jumilah

Mama Aleta di Gunung Batu

MENGENAKAN celana pendek dan jaket abu-abu gombrong, Piter Oematan berdiri tegap di depan rumah adat di Kampung Nausus, Mollo Utara. Pada Senin siang itu dua pekan lalu guyuran hujan lebat baru reda. Aroma pohon kasuari dan rerumputan basah menyergap perkampungan. Mata Piter menatap tajam ke arah dua gunung batu marmer yang menjulang di sana. Ada kenangan pahit yang tersisa dari kedua gunung itu.
Terletak di pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, bentuk gunung itu sudah tidak utuh. Sebagian bopeng-bopeng dipotong penambang marmer pada 1990-an. Beberapa batu hasil tambang dibiarkan teronggok di tengah hutan karena tak sempat diangkut ke luar kampung.

Itulah sisa penambangan yang pada dua dekade silam ditentang keras oleh sebagian besar masyarakat adat dari lima desa di sekitar wilayah tambang. Dimotori Aleta Baun atau Mama Aleta, begitu dia biasa disebut mereka menolak masuknya penambang marmer karena telah merusak lingkungan. “Di sekitar situlah lokasi peternakan masyarakat adat dulu berada,” kata Piter, 56 tahun, salah satu tetua adat di sana.

Mereka percaya leluhur mereka berasal dari batu, kayu, dan air di sekitar desa. “Batu, hutan, dan air merupakan simbol marga dan martabat bagi masyarakat adat di sana,” kata Aleta kepada Tempo. Marga Baun yang disandang Aleta diambil dari unsur air. Di bawah gunung batu terdapat sumber mata air. Maka, tatkala kawasan itu terancam akibat penambangan, urat saraf Piter dan Aleta pun bergolak.

Ancaman terhadap alam di Mollo dimulai ketika pemerintah mengizinkan PT So’e Indah Marmer melakukan penambangan di daerah itu pada 1994. Satu tahun kemudian, giliran PT Karya Asta Alam, perusahaan Thailand, memperoleh lampu hijau. Selain menambang, perusahaan tersebut membuka jalan menuju gunung batu dengan membabat hutan. Walhasil, wilayah yang dikelilingi hutan kasuari jadi kering-kerontang. Air bersih sulit ditemukan.

Padahal, sebelum perusahaan masuk ke sana, masyarakat adat mudah memperoleh air untuk ternak mereka. Rumput yang tumbuh di sekitar kampung adalah sumber pakan ternak buat sapi, kerbau, dan kuda yang banyak terdapat di Mollo. Aleta dan Piter lantas mendatangi kampung demi kampung untuk menggalang penolakan. Dimulailah kisah perlawanan dari Desa Fatukoto, Lelobatan, Leloboko, Ajobaki, dan Bijaepunu, yang terbentang di sekitar gunung batu itu.

Awalnya, tidak semua warga serta-merta mendukung gerakan itu apalagi warga desa yang bekerja di perusahaan tambang. Posisi Aleta juga terjepit karena dia bekerja di Sanggar Suara Perempuan yang dikelola istri bupati. Atasannya melarang dia berdemo.

Strategi lain ditempuh. Sekitar 1999, Aleta diam-diam bertemu dengan para tokoh adat pada malam hari. Menurut Piter, gerakan ini berhasil mendapat dukungan dari masyarakat adat dari suku Amanuban, Amanatun, dan Mollo. Dukungan ini tak mengendurkan tekanan aparat keamanan di lokasi tambang. Mereka malah makin ringan tangan melakukan tindak kekerasan. “Kami kadang dipukul,” Piter mengenang. Masyarakat yang menolak tambang diancam akan dijebloskan ke penjara.

Pemerintah setempat juga mengeluarkan sayembara. Aleta dicap antipembangunan. Nyawanya dihargai Rp 750 ribu-Rp 1 juta bagi mereka yang berhasil membunuhnya. Rumahnya hampir setiap malam dilempari batu. Ibu tiga anak ini pernah dikejar 14 orang sampai ke hutan. Tebasan parang dari para pemburunya menyisakan bekas luka di kakinya. Semula Aleta diungsikan ke Kupang. Tapi dia kemudian kembali ke Mollo. Ia hidup dalam hutan selama enam bulan untuk menghindari kejaran aparat desa.

Dalam pelarian itu, Ainina Sanam, si bungsu yang ketika itu berusia enam tahun, ikut menemani ibunya di hutan. Untunglah, ada Lifsus Sanam, 50 tahun, suami Aleta, yang penuh pengertian. “Saya mendukung perjuangan dia mencari keadilan,” kata Lifsus.

Menurut Piter, intimidasi dan ancaman aparat tidak mengendurkan ikhtiar masyarakat Mollo. Mereka berkukuh menolak perusahaan tambang. Mama Aleta menemukan taktik protes baru yang amat “beraroma lokal”. Dia ke luar hutan dan disertai tiga mama sebutan untuk kaum ibu di Pulau Timor lain, Aleta menenun di celah-celah gunung batu yang hendak ditambang. Sejak pagi buta hingga pukul empat sore para ibu rumah tangga suku Mollo menenun be­ramai-ramai di tempat itu.

Taktik ini dipilih untuk menggambarkan pentingnya kelestarian hutan di sekitar lokasi tambang bagi masyarakat adat di sana. “Seluruh kapas, pewarna, dan alat-alat tenun berasal dari hutan,” ujarnya. Kondisi sebagian hutan Mollo ketika itu telah gundul dibabat perusahaan tambang.

Motif kain tenun yang dihasilkan beragam. Kebanyakan bercerita tentang hubungan manusia dengan alam. Dalam kain tenun itu ada simbol hutan, panglima masyarakat adat, hingga wilayah kepemilikan hak ulayat di sekitar kawasan hutan.

Aksi ini lambat-laun memperoleh simpati. Jumlah penenun bertambah jadi sekitar 60. “Semua ibu rumah tangga dari tiga suku ikut menenun,” kata Aleta. Mereka bermalam di lokasi tambang bersama keluarga. Satu tahun berlangsung, strategi ini ampuh untuk menghadang para pekerja tambang yang hendak bekerja.

Piter mengatakan, karena jumlahnya kian banyak, masyarakat lalu mendirikan perumahan di sekitar lokasi tambang. “Kami juga menggelar ritual adat untuk memohon bantuan leluhur,” ujarnya. Aleta percaya, roh suku Mollo telah menolong perjuangan mereka. Ikhtiar panjang ini membuahkan hasil. Dua perusahaan itu akhirnya angkat kaki dari sana pada akhir 2001.

Setelah berhasil mengusir para penambang, masyarakat adat tiga suku mulai membangun lopo, sebutan untuk rumah adat, di sekitar lokasi tambang. Upaya ini, ujar Piter, dilakukan agar tidak ada lagi penambangan di daerah itu.

Perumahan tadi menjadi cikal bakal Kampung Nausus, yang berjarak 60 kilometer dari Kota So’e, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sekitar sepuluh rumah dan satu balai pertemuan kini berdiri di sana. Sedikitnya 20 keluarga menghuni perkampungan itu, tempat Piter menjadi salah satu tetua adat.

Aleta dan Piter juga menggerakkan penduduk setempat untuk menghijaukan kembali kawasan hutan. Mereka menanam pohon kasuari di sekitar bekas lokasi tambang. Masyarakat desa berkebun dengan menanam tanaman berumur pendek, umpama jagung, pisang, ubi-ubian, dan kacang-kacangan. Hasil bercocok tanam ini tidak dijual. “Tapi untuk dikonsumsi dan dibagikan kepada masyarakat adat,” kata Piter.

Kegiatan menenun juga semakin digiatkan oleh ibu-ibu di wilayah Mollo. Hasilnya dijual ke seluruh Indonesia. Untuk mengenang dan menghargai perjuangan kaum perempuan, masyarakat adat Mollo menggelar Festival Ningkam Haumeni atau Lilin, Madu, dan Cendana. Dilangsungkan pada setiap Mei setelah panen, festival yang dimulai sejak dua tahun lalu ini mempertontonkan kain-kain tenun para mama dan hasil-hasil kebun.

Itu semua, kata Aleta, adalah cara mereka menunjukkan bahwa masyarakat adat di sana mampu hidup mandiri, berdampingan dengan alam.

Yandhrie Arvian, Yohanes Seo (Timor Tengah Selatan)

Sumber : Majalah Tempo (Senin, 07 Mei 2012)
http://majalah.tempo.co/konten/2012/05/07/SEL/139553/Mama-Aleta-di-Gunung-Batu

Soft Launching Pusat Penangkaran (Sanctuary) Tarsius Bancanus Saltator dan Wisata Batu Mentas

Rabu, 24 Maret 2012 lalu, salah satu mitra GEF SGP, KPLB (Kelompok Pencinta Alam Belitung) dan Belitung Adventure menyelenggarakan Soft Opening Pusat Penangkaran Tarsius Bancanus Saltator dan Destinasi Wisata Batu mentas. Acara ini dibuka oleh Wakil Bupati Belitung H Sahani Saleh S, Sos dan dihadiri oleh Wakapolda Bangka Belitung Kompol A Syukrani dan National Coordinator GEF SGP Indonesia, Catharina Dwihastarini.

Semenjak tahun 1951, Tarsius telah dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar no 266 Tahun 1951. Diperkuat dengan UU no 5 tahun 1990 serta SK Menteri Kehutanan No 301/Kplts-II/1991 tertanggal 10 Juni 1991. Tarsius juga termasuk dalam daftar hewan yang dilarang untuk diperdagangkan dalam daftar Appendix II CITES. Secara khusus spesies Tarsius Belitung yaitu Tarsius Bancanus Saltator berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bapak Dr. Indra Yustian M. Si (peneliti dari Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya) telah terdaftar di IUCN sejak 6 Oktober 2008. Dan sejak tahun 2011 Tarsius Bancanus Saltator telah ditetapkan sebagai ikon Fauna Propinsi Babel.

Diharapkan, Pusat Penangkaran Tarsius ini bisa jadi salah satu tujuan wisata yang menarik bagi turis lokal dan asing untuk itu dibangun pula penginapan rumah pohon yang telah dibangun oleh Belitung Adventure. Selain itu, Pusat penangkaran ini dibangun untuk membatasi illegal logging dan pelestarian hewan langka Tarsius tersebut.

Memasyarakatkan Biogas Sebagai Energi Alternatif

Selasa, 27 April 2010, 20:32:00

Kulonprogo (KRjogja.com) – Biogas memiliki potensi kelebihan dalam aspek pemberdayaan masyarakat, ekonomi dan lingkungan idup. Lewat biogas pula masyarakat bisa Mandiri dan berwawasan masa depan untuk kemajuan bangsa. Karena itu biogas hendaknya dikembangkan sehingga menjadi energy alternative.

“Pengembangan energy berbasis pemberdayaan menuju ketahanan energy dan pangan pada rumah tangga petani memang sedang kami populerkan dan disosialisasikan sehingga menjadi sumber energy alternative yang ramah lingkungan,” kata Direktur Eksekutif Yaperindo Bambang Suwignyo PhD di Kulonprogo, Selasa (27/4).

Selanjutnya

Meluruskan Persepsi Tentang Biogas

PERSEPSI sebagian masyarakat bahwa biogas sama dengan kompor sesungguhnya telah menyempitkan makna biogas, sehingga biogas hanya dinilai sebagai sesuatu yang biasa. Padahal selain biogas identik dengan kompor juga memiliki nilai-nilai istimewa. Persepsi masyarakat terhadap biaya penyediaan kompor kayu, kompor minyak dan kompor LPG jauh lebih murah dibandingkan dengan pembuatan digester biogas harus diluruskan.

Selanjutnya

BISA DIGUNAKAN UNTUK MESIN DIESEL – Biogas ‘3in1’ Diluncurkan

Temon (KR) – Guna mengembangkan biogas sebagai sumber energy alternative, Yaperindo menjadikan Kelompok Tani (Kelomtan) Makmur Lestari di Pedukuhan Kretek Desa Glagah Kecamatan Temon sebagai pilot project program biogas dan desa Mandiri Energi. Pembangunan pilot project tersebut dilakukan oleh para kader biogas dengan sumber dana berasal dari program GEF/SGP di bawah pendampingan atau pembinaan Yaperindo.

“Kami memang sedang mengoptimalkan kader biogas dalam mengkampanyekan biogas sebagai salah satu bentuk cinta bumi,” kata Direktur Eksekutif Yaperindo Dr. Bambang Suwignyo MP kepada KR di sela-sela pembanguan pilot project Biogas ‘3in1’  di Sekretariat Kelomtan Makmur Lestari, belum lama ini.

Selanjutnya

Bukan Sekadar Target

Kamis, 1 April 2010 | 04:20 WIB

Persoalan birokrasi dan karut-marut koordinasi antarlembaga negara memperlihatkan, target bauran energi sampai 5 persen dari penggunaan energi konvensional (bahan bakar fosil, termasuk batu bara) pada tahun 2025 hanyalah komitmen di atas kertas.

Sebenarnya, sejak tahun 2006, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, pemerintah menargetkan kemandirian energi pada 2025. Namun, konsumsi energi Indonesia sampai sekarang masih didominasi bahan bakar fosil. Penggunaan minyak bumi sebagai energi primer masih sekitar 51,66 persen, gas bumi 28,57 persen, dan batu bara 15,34 persen. Dengan demikian, sulit pula membayangkan Indonesia bisa mencapai komitmen penurunan emisi gas rumah kaca, khususnya karbon dioksida (CO) sebesar 26 persen pada tahun 2020, yang ditegaskan dalam Konferensi Para Pihak (COP)-15 mengenai Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC) di Kopenhagen, Denmark, pada akhir tahun 2009.

Selanjutnya