Energi Terbarukan Mendukung Peran Radio Komunitas sebagai Media Perwakilan Suara Rakyat
(ditulis untuk Press Release Peluncuran PLTS di Darsa FM, Aceh, pada 12 Februari 2010. Kegiatan ini didukung oleh Ford Foundation dan merupakan kerja sama antara Combine Resource Institution dan GEF SGP Indonesia)
“Kami harap PLTS bisa membuat jadwal siaran kami lebih lancar sehingga banyak berita yang bisa didengar dan disampaikan ke warga” (Abdul Latif, salah satu personil Darsa FM)
Tak bisa dipungkiri semua kegiatan masyarakat modern memiliki ketergantungan tinggi terhadap energi untuk memenuhi ketersediaan listrik. Tanpa adanya pemenuhan kebutuhan listrik, rantai kegiatan ekonomi, politik, serta sosial di setiap lini kehidupan akan berantakan. Energy Information Administration (EIA) memperkirakan pemakaian energi hingga tahun 2025 masih didominasi bahan bakar fosil, yakni minyak bumi, gas alam, dan batubara, termasuk juga di Indonesia. Permasalahannya, data Departemen ESDM menyebutkan bahwa cadangan minyak bumi di Indonesia hanya cukup untuk 18 tahun kedepan, sedangkan gas bumi masih bisa mencukupi hingga 61 tahun lagi dan cadangan batubara diperkirakan habis dalam waktu 147 tahun lagi. Selain itu, bahan bakar fosil mengeluarkan emisi karbon yang besar dan merupakan salah satu sumber utama terjadinya pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim.
Aceh adalah salah satu propinsi yang sedang berkembang dalam berbagai aspek pembangunan. Tentunya, kemajuan ini akan membutuhkan asupan energi listrik yang sangat besar sebagai penunjang. Berdasarkan data dari website WALHI Aceh, pasokan arus listrik di Aceh sebagian besar masih sangat tergantung dengan Sumatra Utara. Dari 255 MW energi listrik yang dinikmati masyarakat Aceh, sebesar 180 megawatt atau 70% dipasok dari pembangkit Sumatera Bagian Utara (Sumbagut). Sementara itu, 30% sisanya bersumber dari PLTD yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Aceh, termasuk PLTD Lueng Bata, Banda Aceh. Ketergantungan ini membuat pasokan listrik di Aceh sering mengalami gangguan terutama jika pasokan listrik dari Sumut putus. Solusi bersama harus segera dicari untuk mempercepat atasi krisis energi listrik tersebut.
Ketidakstabilan aliran listrik di Aceh ini berdampak langsung pada para pengurus dan simpatisan Darsa FM, salah satu anggota Jaringan Radio Komunitas Nanggroe Aceh Darussalam yang berlokasi di Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Karena ketersediaan listrik yang tidak pasti, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) sempat melayangkan ultimatum yang mempertanyakan keberlanjutan dari Darsa FM. Radio komunitas Darsa FM adalah salah satu dari 36 radio komunitas anggota Jaringan Radio Komunitas NAD yang telah diinisiasi pendiriannya oleh program ARRNet. Keberadaan radio komunitas yang digawangi oleh perwakilan masyarakat memegang peranan penting terutama untuk proses transparansi dan keterwakilan suara masyarakat dalam pembangunan yang terjadi di Aceh. Banyaknya perhatian kepada Aceh sebagai akibat dari bencana tsunami, konflik, serta sumber daya alam yang melimpah membuat keterlibatan serta suara masyarakat menjadi sangat penting, mengingat masyarakat adalah penerima manfaat utama dari proses pembangunan yang terjadi di Aceh. Radio komunitas menjadi jembatan penting untuk menyampaikan suara masyarakat atas proses pembangunan kepada pihak-pihak terkait seperti pemerintah lokal, pemerintah pusat, lembaga donor, serta lembaga lainnya.
Berangkat dari kebutuhan untuk mendukung keberadaan radio komunitas dan berkontribusi untuk pemenuhan energi listrik yang ramah lingkungan, Ford Foundation memberikan dukungan berupa penyediaan energi terbarukan yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kepada Darsa FM melalui kerjasama antara Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Combine Resource Institution (CRI). Pemanfaatan energi terbarukan berupa PLTS dipilih karena sifatnya sebagai salah satu energi terbarukan yang ramah lingkungan. Selain itu, energi ini juga memanfaatkan posisi Indonesia di garis khatulistiwa yang memiliki sumber energi matahari yang tersedia sepanjang tahun dan gratis. Terkait dengan pemasangan dan perawatan, PLTS tidak memerlukan sistem transmisi yang rumit, dapat ditempatkan di daerah terpencil, umur pakai sekitar 20 tahun, dan perawatan yang mudah dan hampir tanpa biaya.
Pemasangan PLTS berupa 16 buah panel surya berdimensi 620x580x40mm sudah dilakukan sejak awal Februari 2010. Panel ini akan mengubah energi panas matahari menjadi energi listrik dengan bantuan battery controller regulator sehingga dapat mengisi dua buah battery (Accu Konvensional) berkekuatan masing-masing 12V/150 AH. Battery tersebut kemudian dikonversi menjadi tegangan bolak-balik (AC) dengan bantuan 2 buah inverter berkapasitas @20A, 12/24V yang kemudian akan memiliki keluaran daya maksimal 1KW atau setara dengan listrik 4 Ampere dari PLN.
Teknisi Darsa FM, Abdul Latif yang akrab dipanggil Ogek mengaku sangat bersyukur atas bantuan peralatan ini. “Disini listrik sering mati, jadi jam siaran sering terganggu”. Selain itu, karena Darsa FM berlokasi di Aula Serba Guna Kecamatan Darussalam, ketika ada penggunaan listrik yang melebihi kapasitas maka siaran pun seringkali dihentikan karena daya listriknya tidak mencukupi.
Peresmian PLTS Darsa FM diadakan pada 12 Februari 2010 oleh Bupati Aceh Besar, Bapak Bukhari Daud yang sangat mendukung pemanfaatan energi terbarukan ini. Beliau juga mengakui adanya defisit listrik yang sudah lama terjadi, sehingga harus dicari solusi alternatif untuk pembangkit listrik. Dalam acara peresmian, diadakan juga diskusi mengenai “Pemanfaatan Energi Terbarukan Berwawasan Lingkungan untuk Hidup yang Lebih Baik”, yang dihadiri oleh para pembicara yaitu Suryadi ST – pengamat listrik dari UNSYIAH, Safir, SH – Ketua KPID, dan Rafiansyah dari Arla FM, perwakilan jaringan radio komunitas di Aceh Barat yang sudah memanfaatkan PLTS sebagai sumber listrik mereka.
Kedepannya, kerja sama ini akan mendukung kerja Radio Komunitas Darsa FM untuk keberlangsungan penyelenggaraan penyiaran sebagai jembatan suara masyarakat dengan para pemangku kebijakan, termasuk kelayakan untuk mendapatkan Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP). Dalam acara peluncuran, warga cukup antusias untuk bertanya lebih lanjut mengenai energi terbarukan terutama PLTS. Pertanyaan-pertanyaan kritis terlontar dari warga yang hadir dan dijawab dengan baik oleh para panelis diskusi. Diharapkan, rangkaian acara peresmian PLTS ini bisa melahirkan pemahaman diantara para pemegang kebijakan dan masyarakat Aceh tentang pemanfaatan energi terbarukan demi tercapainya kelestarian lingkungan hidup.
Untuk informasi selengkapnya silahkan hubungi:
Iskandar – Darsa FM:om_is_atjeh@yahoo.co.id
Wahyu – CRI: 081362741968, wahyu.mk@gmail.com
Dwi Rahardiani – GEF SGP Indonesia: 0815 145 44 144, dwi@sgp-indonesia.org






