<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SGP Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.sgp-indonesia.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sgp-indonesia.org</link>
	<description>The GEF Small Grants Programme</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 May 2013 06:28:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Pengumuman Seleksi Proposal GEF SGP Indonesia Periode Mei 2013</title>
		<link>http://www.sgp-indonesia.org/2013/05/pengumuman-seleksi-proposal-gef-sgp-indonesia-periode-mei-2013/</link>
		<comments>http://www.sgp-indonesia.org/2013/05/pengumuman-seleksi-proposal-gef-sgp-indonesia-periode-mei-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 06:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sgpindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sgp-indonesia.org/?p=888</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan keputusan dari Hasil Rapat Seleksi Proposal Panitia Pengarah Nasional GEF SGP Indonesia tanggal 15 Mei 2013 lalu, Berikut Usulan Kegiatan/Proposal yang masuk untuk periode May 2013 ini, Mereka adalah 9 proposal (Full Grant) yaitu : A. FULL GRANT 1. Lembaga Swaka Alam Indonesia Wakatobi (LSAIN) : Mempertahankan Kondisi Sumber daya Laut Untuk meningkatkan Produksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color: #000000;">Berdasarkan keputusan dari Hasil Rapat Seleksi Proposal Panitia Pengarah Nasional GEF SGP Indonesia tanggal 15 Mei 2013 lalu, Berikut Usulan Kegiatan/Proposal yang masuk untuk periode May 2013 ini, Mereka adalah 9 proposal (Full Grant) yaitu :</span></h2>
<p><strong>A. FULL GRANT</strong></p>
<p><strong>1. Lembaga Swaka Alam Indonesia Wakatobi (LSAIN) </strong>: Mempertahankan Kondisi Sumber daya Laut Untuk meningkatkan Produksi Budidaya Rumput Laut ( USD 11,000)</p>
<p><strong>2. LSM Meaka :</strong> Mengembalikan Kearifan Lokal Heresoi Menuju Teknologi Pertanian Organik untuk mengurangi kerusakan ekosistem persisir Wandoka Utara (USD 10,000)</p>
<p><strong>3. Kelompok Tani Asri :</strong> Pemanfaatan Gas Alam sebagai Energi Alternatif Untuk Kebutuhan dan Industri Rumah Tangga serta Penyulingan Eucalyptus (USD 15,000)</p>
<p><strong>4. Yayasan Tafean Pah</strong> : Mengembalikan Kearifan Lokal (USD 40,000)</p>
<p><strong>5. Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah (BPM-PPA)</strong> : Menata potensi lahan terlantar sebagai sumber pangan dan peningkatan sumber penghidupan bagi Masyarakat Sumenep dalam mensiasati dampak perubahan iklim (USD 35,000)</p>
<p><strong>6. Kelompok Petani Penyangga Abarasi Laut dan Darat (KLOMPPALD) : </strong>Pengembangan benih lokal sebagai strategi untuk pemenuhan gizi melalui diversifikasi pangan dan memperkuat sistem pangan komunitas pangan dalam menghadapi dampak perubahan iklim (USD 35,000)</p>
<p><strong>7. Komunitas Sahabat Alam : </strong>“From Ridge To Reef’ : Totalitas Strategi Pengelolaan Kawasan Hutan Mangrove Pulau Selatan Nasik Secara Terpadu dan Berkelanjutan Sebagai Upaya Penyelamatan Ekosistem Pulau dan sumber-sumber Penopang Kehidupan Masyarakat. (USD 20,000)</p>
<p><strong>8. AIESEC Indonesia :</strong> Rehabilitasi dan pengembangan Mangrove dan Ecotourism di Pulau Tanakeke (USD 17,000)</p>
<p><strong>9. Infiniti Motion Project (IMPRO)</strong> : Inovasi Kewirausahaan Lingkungan: Menyoroti Kewirausahaan Hijau antara Mitra GEF SGP Indonesia (USD 50,000)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sgp-indonesia.org/2013/05/pengumuman-seleksi-proposal-gef-sgp-indonesia-periode-mei-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aleta Baun: 2013 Goldman Environmental Prize Winner, Indonesia</title>
		<link>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/aleta-baun-2013-goldman-environmental-prize-winner-indonesia/</link>
		<comments>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/aleta-baun-2013-goldman-environmental-prize-winner-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Apr 2013 05:27:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sgpindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sgp-indonesia.org/?p=880</guid>
		<description><![CDATA[Film yang dibuat oleh Goldman Environmental Prize untuk menceritakan perjuangan Mama Aleta Baun mempertahankan wilayahnya dari tambang marmer dengan menggunakan cara damai, yaitu menenun.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe width="580" height="326" src="http://www.youtube.com/embed/1IcanKHMuKo?feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/aleta-baun-2013-goldman-environmental-prize-winner-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2011 Goldman Prize for Islands &amp; Island Nations: Prigi Arisandi, Indonesia</title>
		<link>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/2011-goldman-prize-for-islands-island-nations-prigi-arisandi-indonesia/</link>
		<comments>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/2011-goldman-prize-for-islands-island-nations-prigi-arisandi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Apr 2013 05:24:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sgpindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video SGP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sgp-indonesia.org/?p=876</guid>
		<description><![CDATA[Film yang dibuat oleh Goldman Prize award bercerita mengenai inisiatif salah satu mitra GEF SGP Indonesia Prigi Arisandi, Ecoton menciptakan gerakan masyarakat lokal Surabaya untuk menghentikan polusi industri terhadap sungai di Surabaya dan menyediakan air bersih bagi warga lokal.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe width="580" height="326" src="http://www.youtube.com/embed/_Tlq1jKHJKU?feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/2011-goldman-prize-for-islands-island-nations-prigi-arisandi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mama Aleta raih &#8220;Goldman Environmental Prize 2013&#8243;</title>
		<link>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/mama-aleta-raih-goldman-environmental-prize-2013/</link>
		<comments>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/mama-aleta-raih-goldman-environmental-prize-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2013 03:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sgpindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sgp-indonesia.org/?p=874</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta (ANTARA News) &#8211; Seorang perempuan asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Aleta Baun, atau yang juga dikenal dengan sebutan &#8220;Mama Aleta&#8221;, meraih penghargaan lingkungan hidup &#8220;Goldman Environmental Prize 2013&#8243;. &#8220;Perempuan yang berasal dari Desa Naususu, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, ini mendapat penghargaan atas upaya penyelamatan lingkungan, sosial, dan budaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta (ANTARA News) &#8211; Seorang perempuan asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Aleta Baun, atau yang juga dikenal dengan sebutan &#8220;Mama Aleta&#8221;, meraih penghargaan lingkungan hidup &#8220;Goldman Environmental Prize 2013&#8243;.</p>
<p>&#8220;Perempuan yang berasal dari Desa Naususu, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, ini mendapat penghargaan atas upaya penyelamatan lingkungan, sosial, dan budaya masyarakat Mollo,&#8221; Dita Ramadhani dari Stringer Goldman Environmental Prize, di Jakarta, Senin.</p>
<p>Dita menjelaskan, para pemenang akan menerima anugerah itu dalam upacara yang khusus untuk undangan di San Francisco Opera House, Amerika Serikat, pada 15 April 2013 pukul 07.00 waktu setempat (Senin sore WIB).</p>
<p>Yayasan Lingkungan Hidup Goldman, lanjut Dita, mengumumkan nama enam penerima hadiah Lingkungan Hidup Goldman 2013 yang merupakan kelompok para pemimpin yang tanpa rasa takut melawan semua rintangan demi melindungi lingkungan hidup dan komunitas mereka.</p>
<p>Mama Aleta terpilih atas upayanya menggerakkan massa sejak 1996 melawan dua perusahaan tambang yang hendak menguasai bukit sakral bagi orang Mollo.</p>
<p>Perjuangan Mama Aleta dan masyarakat Mollo selama 11 tahun akhirnya membuahkan hasil pada 2007 dengan dihentikannya operasional tambang di daerah tersebut.</p>
<p>Mama Aleta secara damai menduduki tempat-tempat penambangan marmer dengan aksi yang disebut &#8220;protes sambil menenun&#8221;, dan perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, Pulau Timor, pun bisa dicegah.</p>
<p>Hadiah Lingkungan Hidup Goldman, yang saat ini memasuki tahun ke-24, diberikan setiap tahun kepada para pahlawan lingkungan hidup, dan masing-masing mewakili enam kawasan besar di dunia.</p>
<p>Dengan uang tunai 150.000 dolar AS bagi tiap penerima penghargaan, hadiah itu merupakan hadiah terbesar untuk aktivisme lingkungan hidup di tingkat akar rumput.</p>
<p>Penghargaan Lingkungan Hidup Goldman didirikan pada 1989 oleh tokoh-tokoh masyarakat dan dermawan seperti Richard dan Rhoda Goldman dari San Francisco.</p>
<p>Para pemenang dipilih oleh suatu dewan juri internasional berdasarkan nominasi rahasia yang diserahkan oleh suatu jaringan kerja organisasi-organisasi dan orang-orang dalam bidang lingkungan hidup.</p>
<p>Selain Mama Aleta, penghargaan diberikan kepada Jonathan Deal (Afrika Selatan), Azzam Alwash (Irak), Rossano Ercolini (Italia), Kimbely Wasserman (AS), dan Nohra Padilla (Kolombia).</p>
<p><em>Editor: Ella Syafputri</em></p>
<p><em>http://www.antaranews.com/berita/369079/mama-aleta-raih-goldman-environmental-prize-2013</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/mama-aleta-raih-goldman-environmental-prize-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Seleksi Proposal GEF SGP Periode Februari 2013</title>
		<link>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/pengumuman-seleksi-proposal-gef-sgp-periode-periode-2012/</link>
		<comments>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/pengumuman-seleksi-proposal-gef-sgp-periode-periode-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Apr 2013 10:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sgpindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sgp-indonesia.org/?p=869</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan keputusan dari Hasil Rapat Seleksi Proposal Panitia Pengarah Nasional GEF SGP Indonesia tanggal 10 April 2013 lalu, Berikut Usulan Kegiatan/Proposal yang masuk untuk Periode Februari 2013 ini, Mereka adalah 21 proposal (18 Full Grant dan 3 Planning Grant) yaitu : A. FULL GRANT 1. LP3MM BUMI GORA (Pusat Penelitian Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat Mandiri) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="font-size: 13px; font-weight: normal;">Berdasarkan keputusan dari Hasil Rapat Seleksi Proposal Panitia Pengarah Nasional GEF SGP Indonesia tanggal 10 April 2013 lalu, Berikut Usulan Kegiatan/Proposal yang masuk untuk Periode Februari 2013 ini, Mereka adalah 21 proposal (18 Full Grant dan 3 Planning Grant) yaitu :</span></h2>
<p><strong>A. FULL GRANT</strong></p>
<p><span style="font-size: 13px; font-weight: normal;">1. </span><strong>LP3MM BUMI GORA (Pusat Penelitian Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat Mandiri)</strong> : Membangun Desa Produktif di Dusun Kumbi, Desa Pakuan dan Desa Lebah Sempage Melalui Konservasi Hulu DAS Jangkok dengan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Tahun 2018 (USD 25,000)</p>
<p>2. <strong>Masyarakat Konservasi Tanah Dan Air Indonesia Cabang NTB (MKTI-NTB) : </strong>Pemberdayaan Masyarakat Gerebegan Gumise Melalui Pendampingan dan Implementasi Tindakan Konservasi Vegetatif dan Pengembangan Ekonomi Produktif sebagai Langkah Pengelolaan Hutan dan Lahan yang Ekonomis dan Berkelanjutan (USD 30,000)</p>
<p>3.<strong> Yayasan Laut Biru (YLB)</strong> : Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Melalui Pengelolaan Daerah Perlindungan Laut (DPL) dan Mata Pencaharian Alternatif Secara Berkelanjutan di Teluk Ekas Lombok Timur (USD 26,000)</p>
<p>4. <strong>Kelompok Wanita Tani &#8220;Wana Lestari&#8221;</strong> : Pengembangan Sumber Protein Nabati dan Herbal Asli Pegunungan Dieng dengan konservasi tanaman kacang batur dan tanaman obat asli di lahan kritis berbasis kelompok perempuan (USD 17,000)</p>
<p>5.<strong> KSM Komunitas Insan Terampil (KINATE)</strong> : Rehabilitasi Ekosistem Terumbu Karang Wa Pia-Pia Berbasis Masyarakat Menuju Desa Ekowisata 2015 (USD 20,000)</p>
<p>6. <strong>Forum Kahedupa Toudani (FORKANI)</strong> : Pengelolaan dan Rehabilitasi Sumber Daya Alam Desa Darawa (USD 20,000)</p>
<p>7. <strong>KOMUNTO</strong> : Meningkatkan Pelestarian Ekosistem Pendukung Pariwisata Desa Kulati (17,000)</p>
<p>8. <strong>FEMBA (Forum Pemberdayaan Masyarakat) : </strong>Rehabilitasi Hutan Mangrove Untuk Pengurangan Degradasi Pantai dan Pelestarian Hutan Bambu Untuk Peningkatan Pendapatan Masyarakat di Desa Kabita (USD 20,000)</p>
<p>9.<strong> Forum Nelayan Binongko (FONEB) : </strong>Konservasi Ekosistem Wilayah Desa Waloindi dan pelestarian Sumbar daya Alam (USD 10,000)</p>
<p>10. <strong>Yayasan Bina Potensi Desa (Sintesa) Wakatobi</strong> : Pengembangan Desa Bajo Ramah Lingkungan (USD 20,000)</p>
<p>11. <strong>DETARA</strong> : Penguatan Kapasitas Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan Mangrove Berkelanjutan melalui Penanaman Mangrove dan Peningkatan Kewirausahaan Masyarakat (USD 26,000)</p>
<p>12.<strong> Yayasan Kanopi Indonesi</strong>a : Pemulihan Ekosistem Mangrove di Mangkang Wetan dan Mangunharjo Berbasis Masyarakat (USD 23,000)</p>
<p>13. <strong>Perkumpulan Telapak (Badan Teritori Jawa Bagian Barat) : </strong>Kolaborasi Masyarakat Kampung Tapos Dalam Pelestarian Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (USD 25,000)</p>
<p>14. <strong>Perkumpulan KELOLA (Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam)</strong> : Penguatan peran nelayan dalam pengelolaan sumberdaya laut secara berkelanjutan di kawasan Taman Nasional Bunaken &#8211; Sulawesi Utara (USD 25,000)</p>
<p>15. <strong>Sindikasi Inovasi Pangan Paradesa</strong> : Pengembangan Produk Pangan Berkelas yang Mengkonservasi Biodiversity (USD 30,000)</p>
<p>16. <strong>Kelompok Peneliti dan Pemerhati Perubahan Iklim Maluku (KP3IM) : </strong>Implementasi Pengembangan Agroforestri Tradisional Penghasil Buah-buahan (USD 10,000)</p>
<p>17. <strong>PILAR Indonesia</strong> : Pengembangan Rumah Baca Bakau (RBB) sebagai pusat pendidikan lingkungan dan inisiatif konservasi  mangrove berbasis masyarakat (USD 20,000)</p>
<p>18. <strong>Yayasan SEKA</strong> : Penyelamatan Populasi Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) Melalui Program Penangkaran Berbasis Masyarakat di Desa Sumberklampok (Desa Penyangga Taman Nasional Bali Barat (USD 10,000)</p>
<p><strong>B. PLANNING GRANT </strong></p>
<p>1. <strong>Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)</strong> : Kemandiria Energi Masyarakat Melalui Pemanfaatan Energi Terbarukan (USD 5,000)</p>
<p>2. <strong>Perkumpulan Telapak Teritorial Bengkulu Sumbagsel</strong> : Perencanaan Proyek Penguatan Ekonomi Masyarakat Secara Partisipatif di DAS Air Bengkulu (USD 3,000)</p>
<p>3. <strong>INRISE</strong> : Penerapan Kewirausahaan untuk Mendukung Up-Scaling dan Exit Strategy Program Tingkat Komunitas yang Didukung GEF-SGP (USD 5,000)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/pengumuman-seleksi-proposal-gef-sgp-periode-periode-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jumiati, Peraih Female Food Heroes Indonesia 2013 Dianggap Gila, Kini Bikin Industri Kerupuk Mangrove</title>
		<link>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/jumiati-peraih-female-food-heroes-indonesia-2013-dianggap-gila-kini-bikin-industri-kerupuk-mangrove/</link>
		<comments>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/jumiati-peraih-female-food-heroes-indonesia-2013-dianggap-gila-kini-bikin-industri-kerupuk-mangrove/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Apr 2013 03:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sgpindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sgp-indonesia.org/?p=862</guid>
		<description><![CDATA[BERKAT kegigihannya berinovasi, Jumiati, warga pesisir pantai Sumatera Utara, mampu menggerakkan perekonomian desa. Dia pun menjadi seorang di antara tujuh perempuan peraih penghargaan dari organisasi nirlaba Inggris, Oxfam, sebagai pahlawan pangan perempuan (Female Food Heroes) Indonesia 2013. &#8212;&#8212;&#8212;&#8211; HENNY GALLA PRADANA &#8211; Jakarta &#8212;&#8212;&#8212;- Senja mulai turun di pesisir pantai Sei Nagalawan, Serdang Bedagai, Sumatera [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BERKAT</strong> kegigihannya berinovasi, Jumiati, warga pesisir pantai Sumatera Utara, mampu menggerakkan perekonomian desa. Dia pun menjadi seorang di antara tujuh perempuan peraih penghargaan dari organisasi nirlaba Inggris, Oxfam, sebagai pahlawan pangan perempuan (Female Food Heroes) Indonesia 2013.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
HENNY GALLA PRADANA &#8211; Jakarta<br />
&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Senja mulai turun di pesisir pantai Sei Nagalawan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Semilir angin mendorong ombak membentuk riak-riak kecil, membasahi butir-butir hamparan pasir putih.</p>
<p>Hening di desa terpencil itu terpecahkan pekik burung-burung bangau yang tengah bermain-main dengan pucuk-pucuk daun hutan mangrove yang menghampar bagai benteng panjang menghijau.</p>
<p>Kendati gelap mulai mengejar, Jumiati masih membenamkan tubuhnya di lumpur kental setinggi dada. Dia, bersama beberapa perempuan lain, tengah menanam bibit-bibit mangrove. Kala itu, dia tengah menuntaskan penanaman 2 ribu bibit mangrove di lahan 2 hektare. Jumiati dan para istri nelayan itu butuh waktu dua hari untuk merampungkannya.</p>
<p>&#8220;Kami punya tekad untuk memperbaiki hutan mangrove di sini,&#8221; ungkap Jumiati mengenang awal dirinya membangun hutan mangrove di Sei Nagalawan.</p>
<p>Pernyataan itu dia ungkapkan ketika bertemu Jawa Pos seusai menerima penghargaan Female Food Heroes Oxfam di Jakarta, awal Maret lalu. Selain Jumiati, ada enam perempuan lain yang mendapat penghargaan yang sama.</p>
<p>Perempuan 32 tahun itu merupakan aktor penggerak 12 perempuan kelompok nelayan untuk penyelamatan hutan mangrove yang gundul di pesisir pantai itu pada 2002.</p>
<p>Bukan tanpa maksud dia mengorbankan diri bekerja setiap hari demi hutan mangrove. Jumiati dan 12 istri nelayan tersebut memercayai bahwa suatu saat hutan mangrove bisa mengangkat dan memperbaiki perekonomian warga Sei Nagalawan, desa yang kala itu masih dikategorikan miskin oleh pemerintah.</p>
<p>Perempuan berkerudung itu menerangkan, dahulu roda perekonomian Desa Sei Nagalawan sangat buruk. Jumiati dan keluarganya adalah salah satu yang tak terhindar dari kehidupan di garis kemiskinan.</p>
<p>Bahkan, dia mengaku, saat melahirkan bayi pertamanya sebelas tahun lalu, dirinya dan suami, Sutrisno, hanya memiliki duit Rp 3.000. Tak pelak, kelahiran anak sulung yang diberi nama Putri Zona Samudera itu terpaksa melalui jasa dukun.</p>
<p>Pascamelahirkan pun, Jumiati dan suaminya masih dilanda kegundahan karena tidak memiliki uang untuk membeli popok dan pakaian bagi bayi mereka. &#8220;Saya terpaksa mengetuk rumah tetangga dan saudara untuk meminta kain atau popok bekas,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Sejak saat itu, Jumiati terpantik untuk lepas dari belenggu kemiskinan. Dia pun berpikir untuk bangkit dari kemiskinan dengan menggerakkan roda perekonomian rakyat secara masif.</p>
<p>Kemiskinan melanda Sei Nagalawan karena mata pencaharian warga sebagai nelayan sering terkendala cuaca buruk, ombak laut yang ganas. Jumiati pun menilai hutan mangrove yang gundul harus segera dibangkitkan. Dia memelopori gerakan tanam mangrove lewat kelompok nelayan Muara Tanjung.</p>
<p>&#8220;Awalnya banyak yang mencibir. Tapi, saya lanjut terus. Bahkan, sebelumnya masyarakat menganggap kami gila dan kurang kerjaan,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Kini, delapan tahun kemudian, Jumiati dan ibu-ibu kelompok nelayan mampu menumbuhkan 12 hektare mangrove di pesisir pantai desa tersebut.&#8221;Mangrove-mangrove itu pun menjelma menjadi hutan yang menumbuhkan kehidupan yang dulu hilang.</p>
<p>Sekarang, kata Jumiati, masyarakat mudah menemukan kepiting batu disela akar-akar mangrove. Ikan semilan, kerang lokan, dan berbagai binatang laut hidup di hutan mangrove tersebut.</p>
<p>&#8220;Melaut kini sudah tidak perlu jauh-jauh lagi. Satu mil saja sudah dapat banyak ikan,&#8221; jelasnya lantas tersenyum.</p>
<p>Masyarakat Muara Tanjung yang awalnya memalingkan muka kini mengakui ide brilian Jumiati. Dia tak hanya membahagiakan keluarga dan warga desanya, tujuh hektare di antara keseluruhan hutan mangrove garapannya saat ini menjadi kawasan ekowisata.</p>
<p>&#8220;Di sekitar area yang disebut Kampung Nipah tersebut, dibangun track secara swadaya. Orang pun kini bisa menikmati keindahan mangrove tanpa harus menyeberang. Cukup dengan berjalan kaki di pinggir pantai.</p>
<p>Perjuangan Jumiati untuk membebaskan wilayahnya dari krisis pangan tidak berhenti di situ. Untuk mendapat penghasilan tambahan bagi keluarga, dia menggerakkan kelompok perempuan nelayan untuk mengolah mangrove jenis jeruju menjadi kerupuk dan minuman teh.</p>
<p>Sementara itu, buah mangrove jenis pidada diproduksi menjadi sirup. Ada juga mangrove api-api yang bisa diolah menjadi dodol serta tepung kue.</p>
<p>Jumiati mengaku tidak pernah terpikir untuk membuat kerupuk dari mangrove. Apalagi bagi ibu-ibu yang kebanyakan hanya lulusan SD itu. Mereka semula menganggap pohon mangrove hanya berfungsi melindungi desa dari angin kencang, terjangan ombak, serta abrasi.</p>
<p>Hingga 2006, Jumiati mendapat ide hasil diskusi dengan para aktivis tambang Sumatera Utara. &#8220;Saya kaget mengetahui bahwa mangrove ternyata bisa dijadikan kerupuk, sirup, dan dodol. Ini peluang untuk memberdayakan perempuan nelayan di desa kami,&#8221; terangnya.</p>
<p>Dengan mengolah ujung daun mangrove dengan adonan tepung yang telah dibumbui, ungkap Jumiati, mangrove jeruju (Acantus ilicifolius) bisa dijadikan kerupuk. Sebelum menjadi kerupuk yang renyah, duri-duri daun jeruju harus dihilangkan. Lalu, dicuci bersih dan digiling halus bersama campuran bawang. Kendati tanpa bahan pengawet, kerupuk mangrove jeruju bisa bertahan hingga sebulan.</p>
<p>&#8220;Hasil kerupuk mangrove jeruju ini telah menghasilkan omzet Rp 3 juta per bulan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Pada 2010, Jumiati dan kelompok nelayannya mengembangkan mangrove api-api menjadi dodol. Bahkan, tepung mangrove api-api bisa digunakan untuk campuran bahan baku kue-kue kering.</p>
<p>Dia menjelaskan, dodol yang diolah masih rasa mangrove asli. Inovasi dengan rasa lain masih dipertimbangkan. Jumiati tidak ingin ciri khas rasa mangrove tersebut hilang.</p>
<p>Tak hanya itu, dodol mangrove tidak bisa bertahan lama. Maksimal hanya sepuluh hari. Sebab, dalam pengolahan, Jumiati tidak menggunakan bahan pengawet. &#8220;Kami masih mempertahankan keaslian bahan mangrove-nya.&#8221;</p>
<p>Kelompok nelayan perempuan bentukan Jumiati terus berkembang, baik kegiatan maupun anggotanya. Jenis olahan mangrove garapan mereka juga terus bertambah tanpa mengurangi fungsi pengendalian lingkungan. Kerupuk ikan teri, kerupuk ikan tongkol, serta teh jeruju bisa menembus pasar dan membantu perekonomian nelayan.</p>
<p>Bahkan, Jumiati dan kelompok nelayannya mampu mengupah tenaga kerja untuk memproduksi kerupuk mulai Rp 10 ribu per hari.</p>
<p>&#8220;Saya tidak menyangka, hasil jerih payah saya bersama perempuan nelayan dulu berdampak ekonomis bagi warga,&#8221; ungkapnya.<strong> (*/c5/ari)</strong></p>
<p><strong>http://www.jpnn.com/read/2013/03/19/163385/Dianggap-Gila,-Kini-Bikin-Industri-Kerupuk-Mangrove-</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sgp-indonesia.org/2013/04/jumiati-peraih-female-food-heroes-indonesia-2013-dianggap-gila-kini-bikin-industri-kerupuk-mangrove/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Conserving Islands, Developing Tourism</title>
		<link>http://www.sgp-indonesia.org/2013/01/conserving-islands-developing-tourism/</link>
		<comments>http://www.sgp-indonesia.org/2013/01/conserving-islands-developing-tourism/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2013 08:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sgpindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sgp-indonesia.org/?p=859</guid>
		<description><![CDATA[A good example is the Coastal Award 2012 won by the Belitung Coastal  Community Group (BCCG) recently for the community group category to  honour their efforts in developing Kepayang Island as a  conservation site through ecotourism, the Washington based Global Environmental Facility in a press release said. The Coastal Award is a biennial award presented [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A good example is the Coastal Award 2012 won by the Belitung Coastal  Community Group (BCCG) recently for the community group category to  honour their efforts in developing Kepayang Island as a  conservation site through ecotourism, the Washington based Global Environmental Facility in a press release said.<br />
The Coastal Award is a biennial award presented by Indonesia’s Fisheries Ministryin collaboration with the Association of Indonesian Coastal Experts (HAPPI).<br />
The award is part of  the National Conference (Konas) on Coastal, Sea and Small Islands  Management which has been held since 1998 and aims to acknowledge the  efforts and contributions by local governments, community groups,  journalists, the private sector and the academia as well as the Forum Mitra Bahari (a forum of related stakeholders) in achieving sustainable and integrated management of coastal areas, sea, and small islands.<br />
Belitung is a small archipelago which comprises one main island  and several small islands. It is located on the east coast of Sumatra, Indonesia, and is part of Bangka Belitung Islands Province.<br />
Since the colonial period around the 1850s, Belitung was well known as a wealthy source of tin that triggered the development of a massive tin mining corporation.<br />
As mining activities increased, the island’s environmental conditions deteriorated at a fast rate. As a result, 80% of the mangrove forest in Selat Nasik Coast was damaged and having a negative impact in local fishermen’s livelihoods.<br />
BCCG Head Budi Setiawan received Coastal Awards 2012.<br />
In order to combat the environmental threats produced by mining, BCCG  was established by Budi Setiawan in 1998. BCCG’s vision has been to  implement sustainable coastal ecosystem management in order to  rehabilitate, protect and manage sea resources, including coral reefs  and fishes, and to improve the livelihoods of communities by reducing  poverty on Belitung Island.<br />
Ever since its establishment, BCCG has continuously focused on environmental conservation and protection through community-based  activities on Belitung Island.<br />
Activities include Tarsius conservation, mangrove reforestation on Selat Nasik Island, turtle conservation on Kepayang Island, and coastal rehabilitation on all islands of operation.<br />
Since 2009, the GEF small grants programme (SGP),implemented by UNDP, has worked with BCCG, providing technical and financial support for the conservation of coral reefs and ecotourism development in Tanjung Binga, Belitung Island and Kepayang Island.<br />
GEF SGP continued this successful partnership by appointing BCCG as the coordinator for the South China Sea Strategic Action Programme (SAP). Under this programme, BCCG coordinates three projects: One directly implemented by them to promote the sustainable management and use of coral reef ecosystems and two other projects implemented by local partners to protect and restore the mangrove forest in Selat Nasik Island and to conserve the Tarsius Bancanus Saltator population through habitat and ecosystem restoration.<br />
These three projects work to protect the environmental landscape in Belitung by using biodiversity as an asset to develop ecotourism in the region while increasing the capacity of local communities.<br />
These South China Sea projects have benefited more than 200 people directly and 500 people indirectly and were completed in November 2010. Throughout the implementation of these projects, BCCG managed to maintain close collaboration with the local government and mobilize related stakeholders such as the federal government, other communities, the academia and the private sectors to support and maintain the results of these projects. As a direct result, the programme in Tanjung  Binga with (BCCG/Kelompok Pecinta Alam Arimba/Komunitas Sahabat Alam) was adopted as a local programme and included in the Local Government’s  Strategic Development Planning (Renstra) at the District Level and  became the prominent part of the annual Sail Indonesia agenda.<br />
In  addition, BCCG has also been granted permission by the local government  to manage the Kepayang Island as the research and learning centre for  ecotourism, which include coral reef rehabilitation and turtle  conservation. Some of the leading community from the South China Sea Project is also involved in this ecotourism programme in Kepayang island.This island-based conservation for ecotourism is an innovative approach developed by BCCG to attract more tourists and provide more economic opportunities for people in the surrounding areas while protecting coastal habitats.<br />
Consequently, BCCG received the Coastal Award for implementing sustainable management for coasts, sea and small islands by initiating, developing and replicating best practices in order to generate environmental and socio-economic benefits to local communities. The Coastal Award is a prestigious award to acknowledge the contribution of local communities, which is crucial to national development.<br />
In the future, BCCG expects that the award will generate more recognition for these best practices and mobilize more stakeholders to conserve the environment and improve the livelihoods of local communities.</p>
<p>http://thesundayleader.lk/2013/01/06/conserving-islands-developing-tourism</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sgp-indonesia.org/2013/01/conserving-islands-developing-tourism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penerimaan Proposal Periode Februari 2013</title>
		<link>http://www.sgp-indonesia.org/2013/01/penerimaan-proposal-periode-februari-2013/</link>
		<comments>http://www.sgp-indonesia.org/2013/01/penerimaan-proposal-periode-februari-2013/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2013 06:23:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sgpindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Call for Proposal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sgp-indonesia.org/?p=854</guid>
		<description><![CDATA[Prioritas Issue: Konservasi Keanekaragaman Hayati, Bahan Pencemar Organik yang Persisten, Perubahan Iklim, Degradasi Lahan dan Perairan Internasional Waktu tenggat pengiriman proposal: 11 Februari 2013 Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia adalah program pendanaan lingkungan yang didukung oleh GEF dan dilaksanakan oleh UNDP mewakili lembaga-lembaga pelaksana GEF lainnya termasuk Bank Dunia dan UNEP. Sekretariat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prioritas Issue: Konservasi Keanekaragaman Hayati, Bahan Pencemar Organik yang Persisten, Perubahan Iklim, Degradasi Lahan dan Perairan Internasional</p>
<p>Waktu tenggat pengiriman proposal: 11 Februari 2013</p>
<p>Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia adalah program pendanaan lingkungan yang didukung oleh GEF dan dilaksanakan oleh UNDP mewakili lembaga-lembaga pelaksana GEF lainnya termasuk Bank Dunia dan UNEP.</p>
<p>Sekretariat Nasional GEF SGP Indonesia membuka undangan mengirimkan proposal dalam rangka pelaksanaan operasional GEF OP5 Y2. Untuk tahun ini, GEF SGP Indonesia menerima alokasi pendanaan dari System for Transparent Allocation of Resources (STAR) untuk mendukung inisiatif lembaga swadaya masyarakat, kelompok perempuan, lembaga masyarakat adat dan kelompok masyarakat lain untuk mengatasi tantangan lingkungan melalui upaya konservasi keragamaan hayati, perubahan iklim, Degradasi Lahan, Bahan Pencemar organik persisten, dan Perairan Internasional.</p>
<p>Dana hibah yang diberikan berkisar USD 2,000 – 50,000 untuk masa pelaksanaan maksimal 24 bulan. Mohon diperhatikan untuk kontribusi masyarakat dalam perencanaan biaya, baik itu berupa jasa (natura) atau dana yang digerakkan oleh masyarakat agar memenuhi syarat dana dampingan GEF SGP dengan perbandingan 1:1. Dana dampingan atau kontribusi dari pengaju proposal ini dimaksudkan untuk menekankan kemandirian dan memberikan jaminan keberlanjutan program. Hanya lembaga yang memiliki kontribusi dan swadaya yang akan diberi nilai lebih dalam proses seleksi.</p>
<p>GEF SGP Indonesia mendorong kemitraan langsung dengan masyarakat adat, kelompok perempuan dan kelompok rentan lainnya dalam upaya menghadapi ancaman-ancaman ekologis sesuai dengan kriteria GEF. Program dana hibah kecil GEF SGP berusaha dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif untuk membuka akses kepada kelompok yang tidak fasih membaca dan menulis dengan pengajuan proposal video ataupun proposal tertulis dengan gambar (foto bersuara atau power point presentation) dalam bahasa daerah dengan rekomendasi penyusunan rencana program yang partisipatif dan menghormati kemampuan dan kearifan lokal. Program ini bertujuan untuk memberikan fasilitas pendanaan kepada kelompok masyarakat dan lembaga swadaya yang sedang menghadapi tantangan ekologis dengan cara-cara dan teknologi yang inovatif, mandiri dan terjangkau melalui pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan.</p>
<p>Sekretariat Nasional GEF SGP Indonesia mengundang organisasi kampung, kelompok masyarakat adat, kelompok perempuan dan LSM untuk mengirimkan konsep kegiatan dan proposal untuk alokasi dana hibah kecil tahun 2013.</p>
<p>Tanggal terakhir penerimaan proposal adalah 11 Februari 2013. Mohon melihat format atau ketentuan proposal dengan baik, untuk melihat fokus area, kriteria, budget dan detail lainnya. Mohon merujuk ke <a href="../../">www.sgp-indonesia.org</a> atau dan menyimak halaman <a href="../../panduan/">Panduan</a> untuk lebih lengkapnya. Hanya lembaga yang terpilih dalam seleksi yang akan dihubungi untuk proses selanjutnya.</p>
<p>Mohon mengirimkan proposal dan/atau berkomunikasi ke email ke : <a href="mailto:info@sgp-indonesia.org">info@sgp-indonesia.org</a>, atau melalui pos:</p>
<p>Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia</p>
<p>d/a Yayasan Bina Usaha Lingkungan</p>
<p>Jl. Bacang II no 8, Kramat Pela</p>
<p>Jakarta Selatan 12130</p>
<p>Telepon 021 720 6125/727 90520/726 6341</p>
<p>Fax 021 726 6341</p>
<p>NB: <span style="text-decoration: underline;">Kami tidak menerima telepon atau komunikasi langsung, mohon mengirimkan proposal via email atau pos. Terimakasih.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sgp-indonesia.org/2013/01/penerimaan-proposal-periode-februari-2013/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>South China Sea Project</title>
		<link>http://www.sgp-indonesia.org/2012/11/south-china-sea-project/</link>
		<comments>http://www.sgp-indonesia.org/2012/11/south-china-sea-project/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2012 02:21:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sgpindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sgp-indonesia.org/?p=846</guid>
		<description><![CDATA[Lima kegiatan yang tersebar di sepanjang Laut China Selatan berjalan bersama untuk mencapai satu tujuan besar sebuah Eco Trade Batam. Beberapa bisnis komunitas  yang dikelola oleh komunitas Batam dan Belitung. Pertukaran pembelajaran pun terjadi diantara komunitas Batam-Belitung-Bali. (foto diambil oleh Dicky L)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>south china sea project</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sgp-indonesia.org/2012/11/south-china-sea-project/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Seleksi Proposal GEF SGP Periode November 2012</title>
		<link>http://www.sgp-indonesia.org/2012/11/pengumuman-seleksi-proposal-gef-sgp-periode-november-2012/</link>
		<comments>http://www.sgp-indonesia.org/2012/11/pengumuman-seleksi-proposal-gef-sgp-periode-november-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Nov 2012 01:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sgpindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Dari SGP Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sgp-indonesia.org/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan keputusan dari Hasil Rapat Seleksi Proposal Panitia Pengarah Nasional GEF SGP Indonesia tanggal 22 November lalu, Berikut Usulan Kegiatan/Proposal yang masuk untuk Agustus 2012, Mereka adalah 14 proposal (11 Full Grant dan 3 Planning Grant) yaitu : A. FULL GRANT : 1. Kelompok Tunas Harapan : &#8220;Peningkatan Kapasitas Kelompok Perempuan Pengrajin Melalui Pengembangan Livelihood Berbasis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berdasarkan keputusan dari Hasil Rapat Seleksi Proposal Panitia Pengarah Nasional GEF SGP Indonesia tanggal 22 November lalu, Berikut Usulan Kegiatan/Proposal yang masuk untuk Agustus 2012, Mereka adalah 14 proposal (11 Full Grant dan 3 Planning Grant) yaitu :</p>
<p><strong>A. FULL GRANT : </strong></p>
<p><strong>1. Kelompok Tunas Harapan </strong>: &#8220;Peningkatan Kapasitas Kelompok Perempuan Pengrajin Melalui Pengembangan Livelihood Berbasis Hasil Hutan Non Kayu untuk Mendorong Pemanfaatan Ekologi Sumberdaya Lahan Rawa Gambut&#8221; (USD 30,000)</p>
<p><strong>2. YAPENSA</strong> : &#8220;Bankable Integrated Farming&#8221; (USD 15,000)</p>
<p><strong>3. Perkumpulan Indonesia Berseru</strong> : &#8220;Mengembalikan kualitas lahan dan peningkatan sumber penghidupan dengan pemberdayakan Pemuda Tani&#8221; (USD 44,000)</p>
<p><strong>4. Indonesia Untuk Kemanusiaan </strong>: &#8220;Mengintegrasikan Pendekatan Gender Dalam Program Pengeloaan Lingkungan Berbasis Masyarakat yang Berkelanjutan&#8221; (USD 27,000)</p>
<p><strong>5. POKMASWAS LAPANG BATANG </strong>: &#8220;Pengembangan Wisata Laut untuk Konservasi Terumbu Karang di Pulau Batang dan Lapang Kabupaten Alor&#8221; (USD 15,000)</p>
<p><strong>6. ONE MOOLU</strong> : &#8220;Pemanfaatan SDA di Wilayah Pesisir Secara Lestari dan Pengawasan Berbasis Masyarakat Kawasan Laut di TN.Wakatobi&#8221; (USD 20,000)</p>
<p><strong>7. Kelompok Masyarakat Peduli Lingkungan Kecamatan Biduk-Biduk </strong>: &#8220;Membangun Kawasan Konservasi Perairan Berbasis Masyarakat untuk Sumber Daya Laut yang Lestari&#8221; (USD 26,000)</p>
<p><strong>8. BIOMA</strong> : &#8220;Pengembangan Unit Ekonomi Produktif dan Energi Alternatif dalam Kelembagaan Ekonomi Mikro Desa Berbasis Konservasi Kawasan di Pegunungan Potorono dan Gunung Sumbing (USD 27,000)</p>
<p><strong>9. SPKP :</strong> &#8220;Rehabilitasi Ekosistem Mangrove sebagai Upaya Mewujudkan Masyarakat Kelurahan Pulau Kelapa yang Sejahtera&#8221; (USD 18,000)</p>
<p><strong>10. POKJA AKBJ : </strong>&#8220;Penyelamatan Kawasan TNUK dari Ancaman Penggembalaan Ternak (Kerbau) dan Perluasan Lahan Pertanian Malalui Program Intensifikasi Pertanian&#8221; (USD 20,000)</p>
<p><strong>11. Kelompok Cundai Oh Cundai :</strong> &#8220;Tindak Lanjut Pengembangan Dusun Kebuai, Desa Sebadak Raya Kecamatan Nanga Tayab, Kabupaten Ketapang Prop Kalimantan Barat Sebagai Desa Mandiri Energi&#8221; (USD 15,000)</p>
<p><strong>B. PLANNING GRANT</strong></p>
<p><strong>1. Yayasan Sorsilai :</strong> &#8220;Pengelolaan SDA Berkelanjutan untuk Peningkatan Ekonomi Desa di Tanimbar Selatan&#8221; (USD 3,500)</p>
<p><strong>2. IPPM :</strong> &#8220;Kajian Kritis Perencanaan dan Pengelolaan Danau Tempe yang Berbasis Komunitas  (Pengolahan Enceng Gondok jadi Kompos, Pakan Ternak &amp; Bio Gas bagi Remaja Putus Sekolah &amp; Ibu-Ibu Rumah Tangga)&#8221; USD 3,000)</p>
<p><strong>3. KBK Pulau Sarang :</strong> &#8220;Penyusunan Rencana Aksi Konservasi Secara Partisifatif&#8221; (USD 4,000)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sgp-indonesia.org/2012/11/pengumuman-seleksi-proposal-gef-sgp-periode-november-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
